- Rektorat USU Ngotot Kosongkan Gereja POUK, MUKI Sumut Bongkar Bukti Sah PGI
- Aneng Batalkan Beli Mobil Dinas, Pilih Beli Ambulan untuk Masyarakat
- Aneng Serahkan Mobil Bantuan kepada Warga Desa Tarempa Barat
- Bupati Aneng Berharap Sepakbola di Anambas Cepat Berkembang
- Bupati Aneng Apresiasi Program TMMD di Anambas
- Tolak Intervensi Kampus di Konflik Chapel USU, MUKI Minta Kementerian Turun Tangan
- Rumah Sakit Bertaraf Internasional Segera Hadir di Sumut, Bobby Nasution Harapkan Beri Pelayanan Maksimal
- Tanam Ganja di Balik Tembok, Pria di Tanjung Morawa Diciduk Polisi! 40 Batang Tinggi 2 Meter Disita
- Buka Kontes Burung Berkicau, Bobby Nasution Dorong Sumut Jadi Pusat Kicau Mania Nasional
- Peresmian 1.061 KMP Nasional, Bobby Nasution Sebut Koperasi Jadi Penguat Ekonomi Rakyat
Usai Razia, Pasir Langka dan Harga Melambung Tinggi

Keterangan Gambar : Pasir(ist)
MELAYUNEWS.COM, BATAM - Usai razia yang dilakukan oleh tim gabungan Polres Barelang dan Ditpam BP Batam terhadap para pelaku usaha penambang pasir, kondisi pasir mengalami kelangkaan dan harga melambung tinggi.
Salahsatu warga Batu Besar, Iwan mengatakan, sejak adanya penangkapan di daerah CLT dan wilayah Batu Besar pasir saat ini sulit didapatkan. Bahkan harga yang biasanya per lori itu naik sekitar 20 persen.
"Sejak razia pasir sulit didapatkan, sementara harga semakin melambung tinggi karena permintaan banyak sementara produksi sangat sedikit,"kata Iwan kepada media ini, Senin(6/3/2023).
Iwan menambahkan, pasir sejak dulu dibutuhkan oleh masyarakat terutama dalam mendukung pembangunan. Namun sampai saat ini sudah puluhan tahun berjalan selalu menjadi sasaran operasi razia karena masalah perizinan. Bahkan pihaknya pernah konsultasi dengan Disperindag terkait perizinan tidak bisa diberikan solusi disebabkan tidak ada area lahan untuk pertambangan di Batam.
"Sebenarnya pasir ini dibutuhkan oleh masyarakat walaupun katanya ilegal. Sebab pembangunan perumahan pasirnya dari mana? bahkan kami sudah pernah bertanya dimana lokasi yang diizinkan oleh pemerintah untuk mengambil pasir namun jawabannya tidak ada," ujarnya.
Menurut Iwan, para pelaku usaha hanya mencari sesuap nasi bahkan harus berurusan dengan aparat penegak hukum. Seharusnya pemerintah menyediakan kebutuhan pasir bagi masyarakat yang membutuhkan apalagi pembangunan kota Batam membutuhkan banyak pasir setiap tahunnya.
"Kadang kita kasihan kepada pelaku usaha penambang pasir, untuk mencari sesuap nasi harus berhadapan dengan hukum. Sementara bahan material pembangunan ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat," katanya.
Sementara, salahsatu kontraktor pelaksana pembangunan perumahan, Rocky mengatakan, akhir-akhir ini sangat sulit untuk mendapatkan pasir. Padahal kebutuhan pasir untuk pembangunan perumahan sangat dibutuhkan terutama pada saat pekerjaan plester.
"Sekarang sangat susah dapat pasir, kalaupun ada kualitasnya kurang bagus. Memang ada pasir putih namun harganya selangit. Satu lori ukuran 5 M3 hampir mencapai Rp 3 juta, kalau pasir yang biasanya kita beli paling setengah harga," ujarnya.
Rocky berharap adanya solusi dari pemerintah untuk mengatasi kelangkaan pasir ini, bahkan bila perlu ada tempat yang diberikan izin oleh pemerintah sehingga kebutuhan pasir di Kota Batam bisa terakomodir.
" Kita hanya bisa berharap pemerintah kota Batam bisa memberikan solusi atas kelangkaan pasir ini, selain langka harga juga mahal. Mungkin kalau ada lokasi yang diberikan sebagai lahan pengolahan pasir bisa membantu pembangunan kota Batam lenih cepat," ungkapnya. (red)




















































