- Klarifikasi Pemko Batam: Tidak Ada Pernah Persetujuan Berjualan di ROW, Proses Penertiban Sesuai Aturan
- Jelang Idhul Adha, DPPP Anambas Cek Kesehatan Hewan Qurban
- Rektorat USU Ngotot Kosongkan Gereja POUK, MUKI Sumut Bongkar Bukti Sah PGI
- Aneng Batalkan Beli Mobil Dinas, Pilih Beli Ambulan untuk Masyarakat
- Aneng Serahkan Mobil Bantuan kepada Warga Desa Tarempa Barat
- Bupati Aneng Berharap Sepakbola di Anambas Cepat Berkembang
- Bupati Aneng Apresiasi Program TMMD di Anambas
- Tolak Intervensi Kampus di Konflik Chapel USU, MUKI Minta Kementerian Turun Tangan
- Rumah Sakit Bertaraf Internasional Segera Hadir di Sumut, Bobby Nasution Harapkan Beri Pelayanan Maksimal
- Tanam Ganja di Balik Tembok, Pria di Tanjung Morawa Diciduk Polisi! 40 Batang Tinggi 2 Meter Disita
Minyak Pertalite Langka, Warga Perbatasan Merana

Keterangan Gambar : Ilustrasi (net)
MELAYUNEWS.COM, ANAMBAS - Permasalahan bahan bakar minyak Pertalit sampai saat ini masih menjadi kendala di Kabupaten Kepulauan Anambas yang merupakan kabupaten termuda di Kepri. Bahkan masyarakat terancam putus transportasi khususnya bagi pemilik kendaraan bermotor roda dua sebab untuk mengantar anak sekolah dan masuk kerja ke kantor pemerintahan tidak bisa karena pertalite tidak ada.
"Jangankan untuk jalan-jalan, minyak untuk antar anak ke sekolah saja tidak ada. Apalagi kalau nanti kerja, bagaimana ini. Bukan kita malas namun tidak mungkin rasanya jalan kaki pergi kekantor, jaraknya bukan dekat, kita merana kalo begini," kata salahsatu Warga, Wandi kepada media ini, Rabu(10/5/2023).
Dia menambahkan pihak agen berjanji hari Jumat yang lalu bahan bakar pertalite sudah masuk namun ketika ditunggu waktu yang dijanjikan tidak juga ada bahan bakar minyak sehingga saat ini kalaupun harganya naik Rp 20 ribu sampai 25.000 per botol tetap akan dibelinya.
"Kalau misalnya harga perbotol Rp 25 ribu tetap akan saya beli namun masalahnya hingga saat ini saya sudah keliling-keliling cari bahan minyak pertalite tetap juga tidak ada, bagaimana kita nanti untuk mengantar anak sekolah dan bekerja," ujarnya.
Wandi berharap kepada pemerintah daerah dan DPRD Kabupaten Kepulauan Anambas bisa mencarikan solusi agar permasalahan bahan bakar minyak di Kabupaten Anambas bisa tersedia tidak seperti saat ini yang hampir terjadi setiap tahun sehingga permasalahan di masyarakat ini sangat krusial.
"Kita harusnya malu kepada kabupaten-kabupaten yang lain. Mereka aja nggak pernah yang namanya mengeluhkan masalah Pertalit padahal mereka bukan penghasil minyak dan gas. Kita bertahun-tahun selalu mengelukan masalah minyak kan aneh," ujarnya. (red )



















































