- Klarifikasi Pemko Batam: Tidak Ada Pernah Persetujuan Berjualan di ROW, Proses Penertiban Sesuai Aturan
- Jelang Idhul Adha, DPPP Anambas Cek Kesehatan Hewan Qurban
- Rektorat USU Ngotot Kosongkan Gereja POUK, MUKI Sumut Bongkar Bukti Sah PGI
- Aneng Batalkan Beli Mobil Dinas, Pilih Beli Ambulan untuk Masyarakat
- Aneng Serahkan Mobil Bantuan kepada Warga Desa Tarempa Barat
- Bupati Aneng Berharap Sepakbola di Anambas Cepat Berkembang
- Bupati Aneng Apresiasi Program TMMD di Anambas
- Tolak Intervensi Kampus di Konflik Chapel USU, MUKI Minta Kementerian Turun Tangan
- Rumah Sakit Bertaraf Internasional Segera Hadir di Sumut, Bobby Nasution Harapkan Beri Pelayanan Maksimal
- Tanam Ganja di Balik Tembok, Pria di Tanjung Morawa Diciduk Polisi! 40 Batang Tinggi 2 Meter Disita
Kisah Akmaruzzaman Bertemu Murid Buya Hamka, Secarik Kertas Merubah Hidupnya

MELAYUNEWS.COM, ANAMBAS - Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Akmaruzzaman menyampaikan beberapa pengalaman selama beberapa tempat menimba ilmu. Dia sempat menceritakan singkat tentang pertemuannya dengan salahsatu guru pesantren di Padang, Sumatera Barat.
"Silahkan merenung sejenak, kenapa kita hadir disini?," ucap Akmaruzzaman dengan penuh penghayatan saat membuka sebuah acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelola Perpustakaan Sekolah di Aula Siantanur Tarempa, Minggu (25/02/2024).
Akmaruzzaman sendiri adalah sosok pejabat publik di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Anambas yang menjabat sebagai Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat.
"Kenapa kita hadir disini? kembali ia bertanya. Kemudian dia berkata, tentu salah satu jawabannya adalah karena kita menginginkan tambahan ilmu pengetahuan dalam bidang perpustakaan," tuturnya.
"Kalau itu jawabannya, maka saya berharap kepada bapak dan ibu yang mengikuti Bimtek ini, agar dapat benar-benar memahami tentang ilmu perpustakaan yang akan diajarkan oleh orang-orang yang telah kompeten dalam mengelola perpustakaan," ujarnya tegas, membangkitkan semangat peserta Bimtek.
Di keheningan suasana sore hari yang cerah itu, Akmaruzzaman pun bercerita kepada seluruh peserta Bimtek tentang kisah hidupnya di Tahun 1988 silam. Dimana saat itu dirinya sedang menempuh pendidikan di Pesantren Kulliyatul Muballighin, Padang Panjang, Sumatera Barat.
Pesantren tempat ia menimba ilmu itu, merupakan pesantren yang didirikan oleh Buya Hamka.Yang salah seorang guru di pesantren itu merupakan murid dari Buya Hamka.
Singkat cerita, guru yang merupakan murid dari Buya Hamka itu mengatakan sesuatu yang sampai sekarang tetap membekas di hati Akmaruzzaman.
"Akmar, dulu Buya tu setiap hari bangun jam 2 malam untuk shalat tahajud. Buya kalau sudah shalat tahajud pada jam 2 malam, maka Buya tidak tidur lagi sampai subuh. Dia menulis terus," ucap Akmaruzzaman menirukan gurunya berbicara.
Begitu banyak buku-buku yang telah ditulis oleh Buya Hamka, semua buku yang ditulisnya itu bermakna nyata dalam kehidupan yang merupakan makanan dan kebutuhan bagi jiwa.
Mendengarnya, Akmaruzzaman pun tergugah hatinya untuk membaca buku-buku itu.
Saat itu, ia datang ke sebuah bangunan tua, dimana bangunan tua itu adalah sebuah perpustakaan yang memang sudah tua, namanya "Perpustakaan Buya Hamka".
Dimana ketika mendengar nama Buya Hamka saja, orang sudah terkagum-kagum. Merasa penasaran dengan nama perpustakaan itu, ia pun mencoba masuk ke dalamnya.
"Apasih hebatnya perpustakaan ini? Padahal perpustakaan ini tidak begitu megah, biasa saja, kayak rumah begonjong," ucapnya penasaran dalam hati sembari masuk ke dalam perpustakaan itu.
Namun setelah masuk ke dalam perpustakaan itu, ia pun merasa kaget sekaligus kagum dengan pelayanan yang ada di dalamnya.
"Apa yang dicari nanda? Nah ini ada, sebelum nanda cari buku-buku, ini ada buku-buku tentang Buya, cobalah dibaca ini," dengan lembut Akmaruzzaman menirukan petugas perpustakaan yang saat itu berbicara kepadanya.
Pelayanan petugas perpustakaan itu pun membuatnya merasa nyaman dan betah untuk terus membaca buku-buku itu.
Saat itu, seorang petugas perpustakaan yang merupakan adik ipar dari Buya Hamka datang menghampirinya, kemudian memberikan secarik kertas yang apabila diuraikan isi dari tulisan di kertas itu, memiliki arti dan makna yang luas.
"Silahkan nanda baca ini, sebelum nanda baca buku-buku lain yang ada disini," ucap petugas perpustakaan itu dengan lembut kepadanya.
Setelah membaca secarik kertas itu, Akmaruzzaman pun tersentuh hatinya karena ternyata kalimat-kalimat yang ada di dalam secarik kertas itu sangat bermakna, merupakan makanan dan kebutuhan jiwanya.
Secarik kertas itu berjudul "Perilaku-Perilaku Orang-Orang Hebat".
Dengan penuh semangat dan penghayatan, Akmaruzzaman pun menjelaskan isi dari secarik kertas yang saat itu spontan merubah pola pikirnya.
"Baru masuk perpustakaan, saya sudah diberikan ilmu seperti itu. Setelah membacanya, saya berubah pola pikir. Jarang saya meninggalkan secarik kertas dan satu pena. Selalu ada dalam kantong baju saya," tutur Akmaruzzaman.
Dijelaskannya singkat, isi dari secarik kertas itu yakni, Orang-orang hebat itu adalah orang-orang yang selalu menyempatkan waktu satu hari untuk membaca sepuluh halaman buku.
Orang-orang hebat itu adalah orang-orang yang selalu mencatat intisari dari sepuluh halaman buku yang ia baca.
Orang-orang hebat itu adalah orang-orang yang setelah menulis menjadi orang yang banyak mendengar kemudian menyampaikan kembali apa yang patut disampaikan, biasa disebut mubaligh.
"Ternyata orang yang sukses dalam bekerja itu diantaranya adalah orang yang banyak mendengar. Bukan mendengar dengan maksud untuk membantah dan menyalahkan, tetapi mendengar untuk mengadu pendapat. Mendengar itu 85 persen kemudian berkata itu 15 persen," jelasnya singkat.
Suasana hening kala itu seketika menjadi ramai seperti gemuruh badai, karena tepuk tangan seluruh peserta Bimtek.
Prok prok prok prok, suara tepuk tangan yang membangkitkan semangat begitu keras terdengar di telinga.
Menurut Akmaruzzaman, sosok Buya Hamka itu adalah seorang pemikir yang hebat. Tak hanya pemikir, ia juga seorang seniman, wartawan, orator dan politikus. Bahkan sampai menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pertama di Indonesia.
"Dalam kehidupan ini, yang tidak boleh hilang itu adalah semangat. Uang yang hilang bisa dicari tetapi kalau semangat yang hilang itu tidak bisa diganti," sebuah kalimat berkesan yang diucapkan oleh guru Akmaruzzaman.
Dari kisah diatas, Akmaruzzaman berpesan kepada peserta Bimtek yang menjadi pengurus perpustakaan, agar bisa membuat terobosan-terobosan untuk bagaimana supaya anak-anak betah membaca.
"Dalam hal ini, sangat diperlukan inovasi-inovasi berupa tantangan yang dapat menumbuhkan semangat anak untuk membaca, memberikan pelayanan yang baik dan menciptakan kenyamanan pada anak saat membaca, sehingga anak-anak merasa bahwa perpustakaan itu adalah rumah keduanya," pesan Akmaruzzaman mengakhiri ceritanya.



















































