- Potensi Baru Cadangan Migas ada Tiga Titik Utama yang Dicari di Laut Natuna
- Kajari Imbau ASN Pemkab Anambas Waspada Oknum Catut Nama Kejaksaan
- Warga Tanjung Pandak Keluhkan Seringnya Pemadaman Listrik Terjadi
- Polsek Siantan Salurkan 50 Karung Beras kepada Buruh Angkut Pelabuhan
- Polda Kepri dan Satnarkoba Polresta Barelang Ungkap 10 Kasus Narkotika, Amankan 13 Tersangka
- Orang Tua Kecewa, Kelulusan SPMB SMA Hanya Bertumpu pada Nilai TKA, Minta Digabung dengan Nilai Rapor
- Warga Batam Merapat, Ada Tempat Hangout 24 Jam Baru dengan Kapasitas Ratusan Orang Plus Videotron Canggih Cocok untuk Nobar
- Sejumlah Pejabat Utama Polda Kepri Mutasi, Berikut Nama dan Jabatan Barunya
- Upacara Peringatan Hari Jadi ke 18, Bupati Anambas Ajak Sebagai Refleksi Tantangan Pembangunan
- Maraknya Aksi Pencurian Fasilitas Publik, Polisi Warning Pengusaha Scrap
JMSI Kepri Sosialisasikan Program Ayo Jadi Penulis di SMAN 26 Batam

Keterangan Gambar : Ketua Pengda JMSI Kepri Eddy Supriatna dalam rangka melakukan sosialisasi Ayo Jadi Penulis.
MELAYUNEWS.COM, BATAM - Pengurus Daerah Jaringan Media Siber Indonesia (Pengda JMSI) Kepri mengunjungi SMAN 26 Batam, Selasa (20/06/2023).
Kunjungan ketua Pengda JMSI Kepri Eddy Supriatna dalam rangka melakukan sosialisasi 'Ayo Jadi Penulis'.
"Bersama SMAN 26 JMSI sudah melakukan MoU yang insyaallah akan terlaksana pada ajaran baru 2023-2034," ujar Eddy Supriatna di dampingi Kepala Sekolah SMAN 26 Batam Midiyanto.
Bentuk kerjasama ini, pada pertengahan Mei 2023 JMSI Kepri mengadakan Pelatihan Jurnalistik dengan pesarta 5 sekolah SMA dan 5 Universitas di Hotel King Batam.
Masing - masing perwakilan sekolah dan universitas mengirimkan 5 orang peserta, termasuk 5 orang siswa dari SMAN 26.
Untuk itu, lanjut Ketua Eddy, pada kesempatan ini, JMSI Kepri mengajak siswa SMAN 26 untuk terlibat dalam program Ayo Jadi Penulis.
Penulisan bebas dengan 500 karakter melalui tema Wisata, seperti menulis tentang keindahan alam, kuliner dan lainnya.
Dengan belajar menulis, tambah Eddy bisa terhindar dari UU ITE, sebab akan ada tahapan etika dalam penulisan.
"Misalnya saya tidak suka dengan pak Kepsek, terus saya menulis sesuka hati di media sosial, tentu Pak Kepsek merasa keberatan dan akan melaporkan saya, tapi dengan bisa menulis tulisan itu bisa terhindar dari ITE," ucapnya.
Kepada media ini, Eddy mengatakan Program Ayo Jadi Penulis lahir dari kekhawatiran tingkat membaca anak saat ini sangat minim.
"Dengan menulis otomatis mereka akan membaca terlebih dahulu jadi Menulis dengan membaca sudah sepaket. Harapannya kedepan melalui program ini tingkat membaca anak dapat meningkat," tuturnya.(red)

















































