- Hari Kesaktian Pancasila, Aneng Ajak Masyarakat Amalkan Nilai Luhur Pancasila
- Bupati Aneng Serahkan Bantuan Perlengkapan Anak Didik di SMPN 2 Siantan
- Runtuhkan Sekat Perbedaan, GRIB Jaya dan Gagak Hitam Satu Suara Jaga Bumi Melayu
- Pembangunan Ruas Jalan Desa Tiangau Tahap Pengerjaan Lantai
- Misteri Pemasok Sabu 15 Kg di Langkat: HP Kurir Disita, Bandar Tak Kunjung Ditangkap
- Memperkuat Sinergi SKK Migas-KKKS Kepulauan Anambas dengan Insan Media Gelar Edukasi
- Enam Hari Tanpa Kabar, PWI Kepri Panjatkan Doa untuk Lima Wartawan yang Hilang
- THM Bersedia Kerjasama Polisi Persempit Pergerakan Narkotika di Anambas
- Kajari Anambas Lantik Dua Pejabat Struktural
- Krisis Air Bersih, Kajari Anambas Terjun Langsung Bantu Distribusi Air kepada Warga
SMSI Bintan dan GAN Kepri Lawan Premanisme Lewat Edukasi dan Kolaborasi

MELAYUNEWS.COM, TANJUNGPINANG — Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Bintan, Ramdan, menjadi salah satu pemateri dalam diskusi Ngobrol Perkara Indonesia (Ngopi) yang diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Pusat Gaung Anak Negeri (DPP GAN) Kepri, Rabu (28/5/2025).
Diskusi yang berlangsung di Kedai Kopi Batman, Tanjungpinang, ini mengangkat tema “Menggugat Premanisme di Era Digital” dan juga menghadirkan narasumber dari Polres Bintan, yakni Iptu Surya.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh LSM, perwakilan mahasiswa, serta pegiat media, sebagai bentuk dukungan terhadap kampanye nasional anti-premanisme yang saat ini tengah digalakkan pemerintah.
Ketua GAN Kepri, Juandi, mengatakan bahwa premanisme merupakan fenomena sosial yang kompleks.
Menurutnya, praktik premanisme tidak hanya mengancam keamanan masyarakat, tetapi juga memengaruhi dinamika politik dan sosial secara luas.
"Dalam beberapa tahun terakhir, premanisme bahkan telah menjalar ke media sosial, menciptakan ruang baru bagi intimidasi dan kekerasan verbal. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan penanggulangan harus dilakukan secara menyeluruh dan kolaboratif," ungkap Juandi.
Sementara, Ketua SMSI Kabupaten Bintan, Ramdan menambahkan, diskusi ini bertujuan untuk menggali perspektif dari berbagai pihak guna mencari solusi konkret yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sosial dan digital masyarakat.
“Kami ingin membangun ruang diskusi yang aman, inklusif, dan produktif untuk mengedukasi masyarakat akan bahaya premanisme serta merumuskan langkah-langkah strategis untuk mencegah dan menanggulanginya,” tambahnya.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang kolaborasi antara unsur masyarakat sipil, aparat kepolisian, dan media dalam memperkuat kesadaran kolektif terhadap isu premanisme yang kian berkembang, terutama di era digital yang serba terbuka.(red)















































