- Ini Penjelasan Panpel AFF Sumut Soal Stadion Teladan Gelar Laga Tanpa Penonton di 2026
- Siloam Medan Clinical Update 2026 Perkuat Standar Penanganan Stroke dan Neurovaskular di Indonesia
- Idul Adha 1447 H, PT Raya Padang Langkat Salurkan Hewan Kurban di Langkat dan Aceh Tamiang
- Makin Panas! Rektorat USU Dituding Campuri Urusan Gereja, Stafsus Menag Diminta Turun ke Medan
- Klarifikasi Pemko Batam: Tidak Ada Pernah Persetujuan Berjualan di ROW, Proses Penertiban Sesuai Aturan
- Jelang Idhul Adha, DPPP Anambas Cek Kesehatan Hewan Qurban
- Rektorat USU Ngotot Kosongkan Gereja POUK, MUKI Sumut Bongkar Bukti Sah PGI
- Aneng Batalkan Beli Mobil Dinas, Pilih Beli Ambulan untuk Masyarakat
- Aneng Serahkan Mobil Bantuan kepada Warga Desa Tarempa Barat
- Bupati Aneng Berharap Sepakbola di Anambas Cepat Berkembang
Anggota DPRD Anambas Tinjau Pasien Korban Dugaan Keracunan Makanan di RSUD Palmatak

Keterangan Gambar : Anggota DPRD Anambas, Hino Faisal saat mengunjungi pasien dugaan keracunan di RSUD Palmatak, Kamis(16/4).
MELAYUNEWS.COM, ANAMBAS - Kasus dugaan keracunan massal makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi pada Rabu lalu di kecamatan Siantan Tengah, Kabupaten Kepulauan Anambas menjadi sorotan dan mendapatkan perhatian serius dari banyak pihak, termasuk anggota DPRD Anambas.
Salah satunya Hino Faisal, ia turun langsung meninjau kondisi para korban di RSUD Palmatak. Politikus partai Demokrat tersebut mengaku ingin melihat secara langsung kondisi korban serta memastikan sejauh mana dampak yang ditimbulkan dari insiden tersebut.
“Ya benar, tadi pagi saya berkunjung ke RSUD Palmatak. Saya ingin melihat kondisi para korban, terutama untuk mengetahui separah mana kejadian dugaan keracunan setelah menyantap hidangan MBG itu,” ujar Hino Faisal, saat dikonfirmasi, Kamis (16/04/2026).
Ia menduga keracunan tersebut berkaitan dengan makanan dari program MBG yang disalurkan oleh Yayasan MBG di Kecamatan Siantan Tengah. Namun, ia menyebutkan, hingga kini belum dapat dipastikan jenis makanan yang menjadi pemicu.
“Dari hasil peninjauan saya, memang terindikasi keracunan dari program MBG. Tapi kami masih ingin memastikan asal muasalnya, apakah dari telur, sayur, buah, atau nasi. Sampai sekarang belum ada keterangan lebih lanjut,” jelasnya.
Hino juga mengungkapkan, jumlah korban yang semula dilaporkan mencapai lebih dari 100 orang kini berangsur menurun. Sebagian besar pasien telah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik.
Ia menilai, insiden tersebut dapat dikategorikan sebagai kejadian luar biasa (KLB), mengingat banyaknya jumlah korban dalam waktu singkat. Bahkan, RSUD Palmatak sempat kewalahan menangani banyaknya pasien.
Mengantisipasi keterbatasan fasilitas serta mempercepat penanganan Hino mengaku sempat melakukan koordinasi dengan RSUD Tarempa tipe C agar menyiapkan bantuan.
“Saya langsung menghubungi Direktur RSUD Tarempa untuk standby tabung oksigen, karena khawatir stok di Palmatak terbatas. Ternyata memang sempat kurang, dan alhamdulillah sudah dibantu,” tuturnya.
Hino pun mengapresiasi kerja keras tenaga medis RSUD Palmatak serta seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan insiden tersebut.(Frank).


















































