- Bupati Aneng Minta Jadi Pejabat Jangan Korupsi
- Kasus Penganiayaan di Rusun Polda Kepri Masuk Persidangan, Kuasa Hukum Tiga Tersangka Siapkan Pembelaan Maksimal
- Star Energy dan KUFPEC Gelar Pelayanan Medis Gratis bagi Warga Jemaja
- Potensi Baru Cadangan Migas ada Tiga Titik Utama yang Dicari di Laut Natuna
- Kajari Imbau ASN Pemkab Anambas Waspada Oknum Catut Nama Kejaksaan
- Warga Tanjung Pandak Keluhkan Seringnya Pemadaman Listrik Terjadi
- Polsek Siantan Salurkan 50 Karung Beras kepada Buruh Angkut Pelabuhan
- Polda Kepri dan Satnarkoba Polresta Barelang Ungkap 10 Kasus Narkotika, Amankan 13 Tersangka
- Orang Tua Kecewa, Kelulusan SPMB SMA Hanya Bertumpu pada Nilai TKA, Minta Digabung dengan Nilai Rapor
- Warga Batam Merapat, Ada Tempat Hangout 24 Jam Baru dengan Kapasitas Ratusan Orang Plus Videotron Canggih Cocok untuk Nobar
Anggota DPRD Anambas Tinjau Pasien Korban Dugaan Keracunan Makanan di RSUD Palmatak

Keterangan Gambar : Anggota DPRD Anambas, Hino Faisal saat mengunjungi pasien dugaan keracunan di RSUD Palmatak, Kamis(16/4).
MELAYUNEWS.COM, ANAMBAS - Kasus dugaan keracunan massal makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi pada Rabu lalu di kecamatan Siantan Tengah, Kabupaten Kepulauan Anambas menjadi sorotan dan mendapatkan perhatian serius dari banyak pihak, termasuk anggota DPRD Anambas.
Salah satunya Hino Faisal, ia turun langsung meninjau kondisi para korban di RSUD Palmatak. Politikus partai Demokrat tersebut mengaku ingin melihat secara langsung kondisi korban serta memastikan sejauh mana dampak yang ditimbulkan dari insiden tersebut.
“Ya benar, tadi pagi saya berkunjung ke RSUD Palmatak. Saya ingin melihat kondisi para korban, terutama untuk mengetahui separah mana kejadian dugaan keracunan setelah menyantap hidangan MBG itu,” ujar Hino Faisal, saat dikonfirmasi, Kamis (16/04/2026).
Ia menduga keracunan tersebut berkaitan dengan makanan dari program MBG yang disalurkan oleh Yayasan MBG di Kecamatan Siantan Tengah. Namun, ia menyebutkan, hingga kini belum dapat dipastikan jenis makanan yang menjadi pemicu.
“Dari hasil peninjauan saya, memang terindikasi keracunan dari program MBG. Tapi kami masih ingin memastikan asal muasalnya, apakah dari telur, sayur, buah, atau nasi. Sampai sekarang belum ada keterangan lebih lanjut,” jelasnya.
Hino juga mengungkapkan, jumlah korban yang semula dilaporkan mencapai lebih dari 100 orang kini berangsur menurun. Sebagian besar pasien telah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik.
Ia menilai, insiden tersebut dapat dikategorikan sebagai kejadian luar biasa (KLB), mengingat banyaknya jumlah korban dalam waktu singkat. Bahkan, RSUD Palmatak sempat kewalahan menangani banyaknya pasien.
Mengantisipasi keterbatasan fasilitas serta mempercepat penanganan Hino mengaku sempat melakukan koordinasi dengan RSUD Tarempa tipe C agar menyiapkan bantuan.
“Saya langsung menghubungi Direktur RSUD Tarempa untuk standby tabung oksigen, karena khawatir stok di Palmatak terbatas. Ternyata memang sempat kurang, dan alhamdulillah sudah dibantu,” tuturnya.
Hino pun mengapresiasi kerja keras tenaga medis RSUD Palmatak serta seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan insiden tersebut.(Frank).
















































